Memuliakan Tetangga

Miefta 01

Pendahuluan

Segala puji bagi Allah, kita memujiNya, meminta tolong dan memohon ampun kepadaNya serta berlindung kepadaNya dari segala kejelekan diri kita dan kekejian amal kita. Barang siapa yang diberi petunjukNya maka tidak ada yang dapat menyesatkannya dan barang siapa yang disesatkan maka tidak ada yang memberinya petunjuk. Dan saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang patut dan hak untuk disembah melainkan Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya.

Sholawat dan salam semoga tercurahkan atas junjungan kita Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabatnya serta siapa saja yang mengikutinya sampai hari kiamat. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang mengikutinya, mewafatkan kita dalam agamanya, membangkitkan kita bersama kelompoknya, dan memasukkan kita ke dalam syafa’atnya kelak. Amien Ya Robb al-‘Alamien.

Tiada yang patut saya ucapkan kecuali kalimat syukur kepada Allah yang telah memberikan saya hidayah untuk menulis sebuah tulisan yang semoga dengannya bisa bermanfaat bagi seluruh manusia, juga tak lupa saya haturkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada semua orang yang telah memotivasi saya untuk belajar menulis baik secara langsung maupun tidak langsung.

Pada tulisan perdana saya kali ini, saya tuliskan naskah yang singkat ini kepada siapa yang mengaku beragama islam (muslim) dengan sebuah judul yang mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita yaitu naskah singkat tentang “Memuliakan Tetangga”. Mengapa saya memilih judul tersebut?? Jawabannya adalah pertama, karena Islam sangat menganjurkan untuk memuliakan tetangga dan merupakan salah satu bagian dari keimanan seorang hamba. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi :

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الاَخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya” (HR. Bukhori Muslim)

Kedua, karena memuliakan tetangga merupakan wasiat yang terus menerus diwasiatkan Jibril kepada Rasulullah sampai-sampai Rasulullah mengiranya akan mewariskannya. Dalam sabdanya :

مَا زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِى بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

Jibril tidak henti-hentinya berwasiat kepadaku (agar berbuat baik) dengan tetangga, sehingga aku mengira bahwasanya dia mewariskannya(HR. Bukhori)

Ketiga, karena manusia di seluruh belahan bumi manapun tidak akan bisa hidup tanpa manusia yang lain dalah hal ini tetangga memiliki peran penting karena dialah yang paling dekat dengannya. Keempat, karena saya melihat hal ini sudah mulai terlupakan di mata masyarakat sehingga tak jarang kalau ada kasus tentang pertikaian dan perselisihan antar tetangga. Maka dari itu saya menulis naskah ini dengan tujuan ingin mempererat hubungan antar tetangga juga dengan tujuan supaya Allah menyempurnakan iman kita dengannya.

Dalam akhir pengantar saya ini, saya mengaharap dengan penuh harapan atas kritikan dan saran pembaca ke email miftahularifien@yahoo.com, karena naskah ini merupakan naskah awal yang saya tulis. Oleh karena itu pasti ada kekurangan dan kesalahan baik dari sisi temanya (materi) ataupun dari sisi penulisannya. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi seluruh masyarakat muslim dan tiada yang saya harapkan kecuali ridho dan rahmatNya. Wallahu al-Muwaffiq ila aqwami al-Thariq.

Yaman, 23 Maret 2011 M

Penulis

Miftahul Arifin Rahman

Bagian Pertama

Siapakah Tetangga Itu??

Mungkin semua orang sudah tau siapa tetangga kita itu, yang pastinya tetangga kita adalah orang-orang yang paling dekat dengan kita rumahnya. Jadi, siapa saja yang dekat dengan rumah kita dari segala sisi maka itulah tetangga kita. Setelah kita mengetahui pengertiannya, maka dalam hal ini kita harus tau batas-batas tetangga kita. Para salafussholih memberikan penjelasan kepada kita tentang batas-batas yang disebut tetangga kita bahwa batasnya adalah sebanyak 40 rumah. Hal itu berdasarkan hadits Nabi bahwa seorang datang kepada Nabi mengadu tentang tetangganya, kemudian Nabi memerintah sebagian sahabat untuk menyeru bahwa tiap 40 rumah adalah tetangga[1]. Mayoritas ulama’ menetapkan bahwa 40 rumah di sekeliling kita adalah tetangga kita yang harus dimuliakan. Beda halnya dengan Zuhri dan Al-Hasan. Hasan ketika ditanya tentang tetangga maka beliau menjawab :

أَرْبَعِيْنَ دَارًا أَمَامَهُ، وَأَرْبَعِيْنَ خَلْفَهُ، وَأَرْبَعِيْنَ عَنْ يَمِيْنِهِ، وَأَرْبَعِيْنَ عَنْ يَسَارِه

“Empat puluh rumah dari depannya, empat puluh rumah dari belakangnya, empat puluh rumah dari sebelah kanannya, dan empat puluh rumah dari sebelah kirinya.”[2]Begitu juga dengan Zuhri. Wallahu a’lam.

Bagian Kedua

Mengapa Kita Harus Bertetangga??

Kenapa Allah menciptakan kita bertetangga dan berhubungan satu dengan lainnya? Alangkah baiknya kita merujuk kepada awal penciptaan ayah kita Adam, Allah menciptakan Hawa untuk mendampingi Nabi adam dari kesepiannya dan juga untuk menolongnya dalam keperluan-keperluannnya. Menurut kisah yang dituturkan para Ulama’ disebutkan bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk sebelah kiri diwaktu ia masih tidur sehingga ketika ia terjaga, ia melihat Hawa sudah berada di sampingnya kemudian ia ditanya oleh malaikat:”Wahai Adam! Apa dan siapakah makhluk yang berada di sampingmu itu?” Berkatalah Adam:”Seorang perempuan.” Sesuai dengan fitrah yang telah diilhamkan oleh Allah kepadanya.”Siapa namanya?” tanya malaikat lagi.”Hawa”jawab Adam.”Untuk apa Tuhan menciptakan makhluk ini?”,tanya malaikat lagi. Adam menjawab:” Untuk mendampingiku, memberi kebahagian bagiku dan mengisi keperluan hidupku sesuai dengan kehendak Allah.” Jadi jika Allah menciptakan Hawa untuk keperluan Adam, maka sesungguhnya kita hidup bertetangga tujuan supaya saling melengkapi satu sama lainnya. Allah telah menegaskan dalam Al-qur’an tentang perihal ini :

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَـئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّهُ إِنَّ اللّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah : 71)

Jadi mustahil bagi manusia untuk hidup sendiri tanpa memerlukan bantuan orang lain yang ada di sekitarnya, karena manusia adalah makhluq yang sangat lemah. Firman Allah :

يُرِيدُ اللّهُ أَن يُخَفِّفَ عَنكُمْ وَخُلِقَ الإِنسَانُ ضَعِيفاً

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu , dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (An-Nisa’: 28)

Ya betul, manusia memang lemah. Berkata As-Sa’di dalam tafsirnya “Sesungguhnya manusia itu lemah dalam segala hal, dalam fithrah, keinginan, semangat, keimanan dan kesabaran sehingga Allah memberikan keringanan kepadanya.”[3] Berkenaan dengan hubungan manusia dengan manusia lainnya Rasulullah bersabda :

المؤمن الذي يخالط الناس و يصبر على أذاهم خير من المؤمن الذي لا يخالط الناس و لا يصبر على أذاهم

“Seorang mu’min yang bergaul/bercampur dengan manusia dan bersabar atas cobaannya lebih baik daripada seorang mu’min yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas cobaannya.”[4]

Bagian Ketiga

Apa Yang Harus Kita Lakukan Kepada Tetangga ?

Setelah kita mengetahui tetangga kita dan batas-batasnya, juga maksud Allah menciptkan manusia bertetangga,  maka sekarang yang ada di benak kita adalah apa yang harus kita lakukan kepadanya?? Maka jawabannya adalah Firman Allah  :

وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالاً فَخُوراً

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh dan teman sebaya, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (An-Nisa’ : 36)

Dalam ayat diatas Allah menyebutkan tetangga dengan hal-hal yang setara dengan kewajiban lainnya seperti beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukanNya dengan selainNya serta taat kepada kedua orang tua, sedangkan beribadah kepada Allah adalah hal yang diwajibkan pertama kali dalam Islam yaitu Tauhid kepadaNya dan menghindar dari kesyirikan, maka hal-hal yang mengikutinya setelah itu juga diwajibkan termasuk berbuat baik kepada tetangga. Selain itu kandungan ayat diatas juga menyingung masalah hak-hak Allah atas hambanya yaitu tauhid dan hak-hak hamba atas hamba lainnya. Adapun hak-hak hamba terhadap hamba lainnya terbagi menjadi 5 golongan :

1.            Apa yang diantaranya dengan yang lainnya ada kekerabatan dan hal ini dikhususkan hanya kepada orang tua oleh karena keduanyalah yang menjadi sebab (perantara) adanya anak, maka baginya kehormatan, juga masuk dalam hal ini adalah keluarga kita.

2.            Terhadap yang lemah dan butuh terhadap bantuan kita, dalam lingkup ini ada 2 kelompok.Pertama, anak yatim yaitu yang tidak memiliki ayah dan mereka masih kecil sehingga membutuhkan bantuan orang lain karena lemahnya kekuatan mereka. Kedua, orang miskin yaitu orang yang kekurangan harta.

3.            Yang memiliki kekerabatan kepada kita, dalam lingkup ini ada 3 kelompok. Pertama,Tetangga dekat yaitu yang paling dekat dengan kita.Kedua, Tetangga jauh yaitu yang jauh dengan kita. Para ulama berbeda pendapat tentang tetangga dekat dan jauh, ada yang mengatakan bahwa tetangga dekat adalah tetangga muslim, sedang tetangga jauh adalah tetangga kafir, ada lagi yang memasukkan orang asing dalam tetangga jauh, dan perempuan ke dalam tetangga dekat. Akan tetapi yang hampir mendekati kebenaran adalah sabda Rasulullah yang telah saya kemukakan diatas bahwa tetangga dekat adalah 40 rumah dari rumah kita dan tetangga jauh diatas itu. Wallahu a’lam. Ketiga, Sahabat dekat/karib, bisa istri kita atau teman akrab kita dan yang pertama adalah yang paling mendekati kebenaran.

4.            Ibnu Sabil yaitu Seseorang asing yang berada di negeri orang yang membutuhkan bantuan ataupun tidak[5]. Maka sepantasnnya bagi warga negeri itu untuk memenuhi hajatnya atau memuliakannya.

5.            Apa-apa yang dimiliki olehnya baik itu manusia (budak) ataupun hewan (peliharaan).

Itulah kandungan dari ayat itu, jadi telah jelaslah bagi kita bahwa memuliakan tetangga dan menghormatinya merupakan kewajiban bagi seorang muslim, bahkan hal tersebut merupakan salah satu dari bagian keimanan seorang hamba, dengan artian seseorang yang tidak memuliakan tetangganya bahkan menyakitinya maka keimanannya berkurang seperti apa yang disabdakan Rasulullah dalam hadistnya :

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليقل خيراً أو ليصمت , ومن كان يوم بالله واليوم الاخر فليكرم جاره , ومن كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليكرم ضيفه-رواه البخاري و مسلم-

Dari Abu Hurairah bahwa Rosulullah bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.”(Bukhori Muslim)[6]

Dalam riwayat lain “فلا يؤذي جاره” yang artinya “Janganlah menyakiti tetangganya!”, “فليصل رحمه” artinya “maka sambunglah tali silaturrahim” juga dikeluarkan oleh Bukhori dan Muslim dari hadits Abi Al-Syarh al-Khuza’ie[7]. Juga sabdanya :

عن أبي شريح عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : و الله لا يُؤْ مِن و الله لا يُؤْ مِن و الله لا يُؤْ مِن, قيل : من يا رسول الله؟ قال : من لا يأْمَنُ جارُه بوا ئقَه -البخاري-

Dari Abi as-Syarih dari Nabi bersabda : “Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman.”Dikatakan kepadanya : “Siapa itu wahai Rasulullah?” Rasul menjawab : “Barang siapa yang tetangganya tidak aman dari bahayanya/gangguannya” (Bukhori)[8]

Memuliakan tetangga dan tidak menyakitinya merupakan sikap yang dijunjung tinggi dalam Islam, dan kita telah tahu bahwa dalam Islam menyakiti sesama dilarang bahkan haram karena dapat merusak hubungan ukhuwah islamiyah. Jika hal itu dilarang maka menyakiti tetangga lebih dilarang lagi. Rasulullah pernah ditanya tentang dosa yang paling besar kemudian beliau menjawab : “ Engkau menjadikan sekutu selain Allah (Syirik) sedangkan Dialah yang menciptakanmu” dikatakan kepadanya : “kemudian apa?” maka beliau jawab : “Membunuh anakmu ditakutkan dia akan makan bersamamu (menyengsarakanmu)” kemudian dikatakan lagi kepadanya : “kemudian apa?” beliau bersabda : “Berzina dengan tetanggamu.”[9] Dalam musnad Ahmad juga diterangkan bahwa Rasulullah bertanya kepada sahabat : “Apa yang kalian ketahui dari zina?” Mereka (sahabat) menjawab : “Haram, Allah dan RasulNya telah mengharamkan sampai hari kiamat” kemudian beliau bersabda: “Seandainya seseorang berzina dengan 10 wanita lebih ringan (dosanya) daripada berzina dengan tetangganya.” kemudian beliau bertanya lagi : “Apa yang kalian ketahui dari mencuri?” Mereka menjawab: “Haram, Allah dan RasulNya telah mengharamkan sampai hari kiamat” kemudian beliau bersabda: “Seandainya seseorang mencuri dari 10 rumah lebih ringan (dosanya) daripada mencuri dari rumah tetangganya”[10]. Astaghfirullah .. betapa besar dosa yang disebabkan oleh menyakiti tetangga, dalam hadits pertama diterangkan bahwa menyakiti tetangga termasuk dalam kategori dosa besar, sedangkan dalam hadits kedua menerangkan berapa besarnya dosa yang disebabkan menyakiti tetangga sampai Rasulullah melebihkan dosanya dari seorang yang berzina dengan 10 wanita. Tidak hanya itu, dosa menyakiti tetangga juga akan menyebabkan seseorang jauh dari surga bahkan bisa menyeretnya ke neraka Wal ‘iyadzu billah. Sabda Nabi :

عن أبي هريرة : قيل : يا رسول الله إن فلا نة تصلي باليل و تصوم النهار و في لسانها شئ تؤذي جيرانها سليطة, قال  : لا خير فيها هي فى النار, و قيل له : إن فلا نة تصلي المكتوبة و تصوم رمضان و تتصدق بالأتوار و ليس لها شئ غيره ولا تؤذي أحدا, قال : هي فى الجنة.-أحمد و الحاكم-

Dari Abu Hurairah : Dikatakan kepada Nabi : “Ya Rasulullah sungguh si fulanah sholat malam, puasa di siang hari (akan tetapi) dia selalu menyakiti tetangganya dengan lisannya”, kemudian Rasulullah menjawab : “Tidak ada kebaikan didalamnya (amalannya) dan dia di neraka.” Dan dikatakan kepadanya : “Sungguh fulanah sholat 5 waktu dan berpuasa ramadhan dan bersedekah dengan Atwar (bejana kecil untuk minum) dan dia tidak menyakiti seorangpun”, maka Rasulullah menjawab : “Dia di surga.” (Ahmad dan Hakim)[11]

عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال :”لا يدخل الجنة من لا يأْمَنُ جارُه بوا ئقَه”-مسلم-

Dari Abu Hurairah dari Nabi bersabda : “Tidak akan masuk surga barang siapa yang tetangganya tidak aman dari bahayanya/gangguannya” (Muslim)[12]

 

Bagian Keempat

Hak-Hak Tetangga

Hak adalah sesuatu yang harus dipenuhi oleh seseorang demi si pemilik hak. Hak Allah adalah MenyembahNya dan tidak menyekutukanNya, hak orang tua adalah mentaati perintahnya selam tidak condong kepada kemaksiatan, dan begitu seterusnya. Nah, pada bagian keempat ini saya akan mengemukakan hak-hak tetangga atas kita. Dalam musnad al-Bazzar dari hadits Jabir bahwa Rasulullah bersabda :

الجيران ثلاثة : جار له حق واحد وهو أدنى الجيران حقا, و جار له حقان, و جار له ثلاثة حقوق وهو أفضل الجيران حقا, فأما الذي له حق واحد فجار مشرك لا رحم له , له حق الجوار, فأما الذي له حقان فجار مسلم له حق الإسلام و حق الجوار, فأما الذي له ثلاثة حقوق فجار مسلم ذو رحم فله حق الإسلام و حق الجوار و حق الرحم.

“Tetangga itu ada liga macam, yaitu tetangga yang mempunyai satu hak, dia adalah tetangga yang memiliki hak paling rendah. Lalu tetangga yang mempunyai dua hak, dan tetangga yang mempunyai tiga hak, dia adalah tetangga yang memiliki hak paling utama. Adapun tetangga yang mempunyai satu hak, maka dia adalah tetangga musyrik (kafir) yang tidak mempunyai hubungan kerabat baginya, dia mempunyai hak tetangga. Adapun tetangga yang mempunyai dua hak, maka dia adalah tetangga muslim, dia mempunyai hak Islam dan hak tetangga. Adapun tetangga yang mempunyai tiga hak ialah tetangga muslim yang masih mempunyai hubungan kerabat, dia mempunyai hak tetangga, hak Islam, dan hak kerabat.”[13]

Selain itu Rasulullah juga bersabda dalam hadits lainnya :

من أغلق بابه دون جاره مخالفة على أهله و ماله فليس ذالك بمؤمن و ليس مؤمنا من لا يأمن جاره بوائقه, أتدرى ما حق الجار؟ إذا استعانك أعنته, وإذا استقرضك أقرضته, وإذا افتقر عدت عليه, وإذا مرض عدته, وإذا أصابه خير هنيته, وإذا أصابته مصيبة عزيته, وإذا مات اتبعت جنازته, ولا تستطل عليه بالبناء فتحجب عنه الريح  إلا بإذنه, ولا تؤذى بقتار ريح قدرك إلا أن تغرف له منها, وإن اشتريت فاكهة فاهد له, فإن لم تفعل فأدخلها سرا, و لا يخرج بها ولدك ليغيظ بها ولده.

Barang siapa yang menutup pintunya untuk tetangganya karena tidak ingin kehilangan keluarga dan hartanya maka bukan seorang mu’min, dan (juga) bukan seorang mu’min yang tetangganya tidak aman dari gangguannya, apakah engkau tahu Hak tetangga? Jika dia meminta pertolongan padamu engkau menolongnya, jika minta pinjaman engkau meminjamkannya, jika dia butuh engkau berikan kepadanya, jika dia sakit engkau menjenguknya, jika ditimpa kebaikan engkau merasakannya, jika ditimpa musibah engkau menghiburnya, jika dia meninggal engkau ikuti jenazahnya, dan janganlah engkau meninggikan bangunanmu (rumah) sehingga menghalangi angin  (sinar matahari) darinya kecuali dengan izinnya, dan janganlah engkau menyakitinya dengan aroma sedap kecuali engkau berikan sebagian darinya kepadanya, dan jika engkau membeli buah maka hadiahkanlah (sebagiannya), maka jika tidak engkau kerjakan berikanlah kepadanya kebahagiaan.[14]

Itulah beberapa hak tetangga atas kita, jadi siapa saja yang telah melakukan hak-hak tersebut maka sungguh telah dikatakan beriman. Berapa banyak dari seseorang kecuali yang dirahmati Allah yang lalai terhadap hak-hak atas tetangganya bahkan acuh tak acuh terhadapnya sehingga jika ada tetangganya yang kekurangan makanan ia sibuk dengan dirinya sendiri tanpa menghiraukannya. Sungguh sangatlah tidak mulia perbuatan ini. Rasulullah bersabda :

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَ جَارُهُ جَائِعٌ

Bukanlah seorang mu’min seorang yang dirinya kenyang sedangkan tetangganya lapar[15]

Juga sabda Nabi :

مَا آمَنَ مَنْ بَاتَ شَبْعَانَ وَ جَارُهُ طَاوِيًا

Tidaklah beriman barang siapa yang dirinya kenyang sedangkan tetangganya lapar[16]

Sesungguhnya Rasulullah telah mengajarkan kepada umatnya adab yang baik dalam bertetangga dan salah satu adab yang beliau ajarkan adalah memberikan sebagian makanan kita kepada tetangga kita, bukan malah diberi bau dan aromanya saja karena hal itu tidak mulia. Dalam sabdanya kepada Abu Dzar adalah :

أوْصَانِى خَلِيْلِي إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَاً فَأَكْثِرْ مَاءَهُ ثُمَّ انْظُرْ إِلَى أَهْلِ بَيْتٍ مِنْ جِيْرَانِكَ فَاَصِبْهُمْ مِنْهُ بِمَعْرُوْفٍ

Kekasihku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) berwasiat kepadaku apabila engkau membuat sayur maka perbanyaklah airnya, kemudian lihatlah jumlah keluarga dari tetanggamu lalu berikanlah kepada mereka air itu dengan baik.[17]

Sungguh sangatlah mulia perangai Rasulullah seperti apa yang dikatakan ‘Aisyah bahwa perangai beliau adalah Al-Qur’an.

 

Pasal – Bagaimana jika kita tidak bisa menunaikan hak-hak tersebut?

Adakalanya seseorang itu dihinggapi kelemahan dalam menunaikan hak-hak atas tetangga atau mungkin enggan untuk melakukannya, maka Islam tidak membebankan kepada pengikutnya kecuali dengan apa yang mereka bisa. Jika tidak bisa menunaikan hak-hak tersebut maka tingkatan terendah dari hak tetangga adalah tidak menyakitinya dengan aroma masakan seperti yang diriwayat oleh Atha’ dari Hasan dari Jabir bahwa Rasulullah bersabda : “Paling rendahnya hak tetangga adalah tidak menyakitinya dengan memberinya aroma makanan kecuali engkau memberikan sebagian darinya.”[18]

Pasal Bagaimana sikap kita melihat tetangga yang dzhalim terhadap kita?

Sikap dzhalim adalah suatu sikap yang dicela oleh Allah dan RasulNya dalam Qur’an dan Sunnah. Dzhalim yang paling tinggi tingkatannya adalah syirik kepada Allah seperti apa yang diwasiatkan Luqman kepada putranya :

يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Luqman:13)

Dan syirik yang paling rendah adalah menyakiti sesama. Sungguh Allah mengharamkan kepada manusia untuk saling mendzhalimi bahkan kepada diriNya, disebutkan dalam hadits qudsi :

يا عبادي إني حرمت الظلم على نفسي , وجعلته بينكم محرماً فلا تظالموا

Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan (berlaku) zhalim atas diri-Ku dan Aku menjadikannya di antaramu haram.[19]

Lalu bagaimana sikap kita jika didzhalimi oleh seseorang khususnya tetangga kita, sungguh sikap yang paling mulia adalah bersabar atasnya. Rasulullah bersabda:

إن الله يحب الرجل يكون له الجار يؤذيه فيصبر على أذاه حتى يفرق بينهما الموت أو ظعن

Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang memiliki tetangga kemudian menyakitinya dan ia tetap bersabar sampai mati atau bepergian memisahkan keduanya.[20]

Juga di hadits sebelumnya telah disebutkan tentang orang yang bergaul dengan manusia kemudian bersabar atas gangguannya lebih baik dari yang tidak bergaul dan tidak bersabar atasnya. Dan hendaklah seseorang yang mendzhalimi tetangganya agar segera bertaubat dan memohon ampunanNya sungguh Dialah yang Maha Pengampun dan Penerima Taubat, karena seseorang yang mendzhalimi tetangganya akan binasa seperti yang disabdakan Rasulullah :

ما مِنْ جَارٍ يَظْلِمُ جَارَهُ وَيَقْهَرُهُ حَتَّى يَحمله ذَلِكَ عَلَى أَنْ يَخْرُجَ مِنْ مَنْزِلِهِ إِلاَّ هَلَكَ

Tidak ada seorang tetangga yang menzhalimi tetangganya dan memusuhinya, sehingga dia terpaksa ke luar dari rumahnya, maka niscaya dia (tetangga yang menzhalimi) akan binasa.”[21]

Pasal – Apa yang kita lakukan jika tetangga kita seorang kafir (Yahudi & Nashrani)?

Dalam hadits sebelumnya tentang tetangga yang memiliki 1 hak saja dan itu merupakan paling rendahnya hak dalam tetangga yaitu hak tetangga kafir atau musyrik, mereka hanya memiliki hak tetangga saja tidak ada hak Islam dan kekerabatan. Dan telah kita ketahui bahwa orang-orang kafir yang tinggal dalam negara Islam itu terbagi menjadi 3, yaitu :

1. Ahlu adz-Dzimmah, yaitu orang selain Islam yang tinggal di negara Islam selamanya dalam artian menjadi penduduk negara tersebut.

2. Musta’min (Minta perlindungan), yaitu selain Islam yang tinggal dalam waktu terbatas.

3. Muharib, yaitu orang selain Islam yang ingin memerangi Islam.

Ulama’ menambah satu golongan lagi yaitu Al-Mu’ahid yaitu seorang selain Islam yang mengadakan perjanjian dengan kaum muslimin. Nah, 2 kelompok teratas dan Mu’ahid wajib bagi kita untuk menghormati hak-hak mereka dan berbuat adil terhadap mereka sesuai petunjuk Islam, akan tetapi untuk kelompok yang ketiga kita juga harus memerangi mereka seperti mereka memerangi kita. Disini ada pengecualian tentang Mu’ahid, jika mereka melanggar perjanjian, maka wajib bagi kita memeranginya.

Mengenai hal ini ada suatu hadits yang masyhur dari Mujahid, dia berkata, “Aku berada di samping Abdullah bin Amr, sementara anaknya sedang menguliti kambing. Lalu Abdullah bin Amr berkata, “Wahai anakku! apabila engkau telah selesai, maka mulailah (bersedekah) dengan tetangga kita yang beragama Yahudi.” Lalu seseorang dari kaum itu berkata, “Orang Yahudi? Mudah – mudahan    Allah    memperbaiki    keadaanmu?” ‘Abdullah bin Amr berkata,

سَمِعْتُ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوْصِى بَالْجَارِ، حَتَّى خَشِيْنَا أَوْ رُؤَيْنَا أَنَّهُ سَيُوَرَّثُهُ

Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berwasiat (agar berbuat baik) dengan tetangga, sehingga kami khawatir atau kami mengira bahwasanya beliau akan mewariskannya.”[22]

Sedang yang kita ketahui bahwa makanan Ahli Kitab halal bagi kita begitu juga sebaliknya berdasar firman Allah :

الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ حِلٌّ لَّكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلُّ لَّهُمْ

“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik, makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka.” (Al-Maidah : 5)

Dan maksud dari makanan disini adalah makanan sesembelihan kecuali yang disembah tidak karena Allah juga tidak dari barang ghosob.[23] Wallahu a’lam.

 

Kesimpulan

Setelah kita mengkaji segala hal yang berhubungan dengan tetangga, maka dapat kita simpulkan bahwa : Pertama, kita tahu bahwa memuliakan tetangga adalah suatu kewajiban kita sebagai seorang mu’min yang percaya kepada Allah dan Hari Akhir, dan berkuranglah keimanannya seorang yang tidak memuliakan tetangganya. Kedua, sungguh menyakiti tetangga merupakan hal yang tidak mulia sama sekali dalam Islam sehingga membuat pelakunya dilecehkan oleh tetangganya dan menimbulkan pertikaian dan perselisihan diantaranya. Ketiga, memiliki tetangga yang baik merupakan salah satu impian kita karena salah satu kebahagian seseorang adalah memiliki tetangga yang baik, dalam sabda Rasulullah dikatakan :

مِنْ سَعَادَةِ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ: اَلْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِىءُ

Sebagian dari kebahagiaan orang muslim adalah rumah yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman.[24]

Nah, itulah beberapa poin yang dapat kita petik dari pentingnya memuliakan tetangga. Semoga Allah menjadikan kita tetangga yang baik kepada tetangga kita, memberikan hak-hak mereka, menghormati dan memberikan kebebasan atas mereka. Sesungguhnya sebaik-baik tetangga adalah yang paling baik terhadap tetangganya. Dan hendaknya kita juga berdo’a semoga kita terhindar dari tetangga yang buruk perangainya. Salah satu do’a yang Rasulullah ajarkan kepada kita adalah sebagai berikut :

اللَّهُمَّ إِنَّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوْءِ فِي دَارِ الْمُقَامِ فَإِنَّ جَارَ الدُّنْيَا يَتَحَوَّلُ

Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon perlindungan-Mu dari tetangga yang jelek di Darul Maqam (akhirat), karena sesungguhnya tetangga di dunia dapat berubah.[25]

Jadi, kalaulah semua orang dapat memuliakan tetangganya maka tidaklah ada pertikaian dan perselisihan diantara mereka, kehidupan yang penuh dengan kedamaian dan kerukunan sehingga terbentuklah Baldatun Thoyyibah wa Rabbun Ghafur.

 

Penutup

Akhirnya pada akhir tulisan saya ini, saya mengharap kepada pembaca untuk kiranya mema’afkan saya jika terdapat hal-hal yang kurang tepat dan benar karena sesungguhnya tulisan saya ini tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan dan sungguh kebenaran hanyalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Saya memohon kepadaNya taufiq dan rahmatNya. Dan semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi saya pribadi khususnya karena saya tidak ingin menjadi seseorang yang Allah sifatkan dalam Al-Qur’an sebagai seorang yang “Ya’mur annasa bil birr wa yansa nafsahu (Menyuruh orang untuk berbuat baik akan tetapi lupa atas dirinya sendiri)[26] dan juga untuk pembaca pada umumnya dengan harapan “Yastami’una  alQoula  fayattabi’una  ahsanahu (Mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang terbaik darinya)[27] Wallahu alMuwaffiq ila aqwami ath-Thariq.


[1] At-thabrani dalam Al-Kabir 19/73.

[2] Shahih Adabul Mufrod.

[3] Taysir al-Karim al-Rahman fi tafsiri kalam al-Mannan, Hal 175.

[4] Ahmad dan Abu Daud dari Ibnu Umar, Lihat kitab Musnad Ahmad Juz 9.

[5] Taysir al-Karim al-Rahman fi tafsiri kalam al-Mannan, Hal 178.

[6] Bukhori 6018, Muslim 47.

[7] Bukhori 6019, Muslim 48.

[8] Bukhori 6016.

[9] Bukhori 4488, Muslim 86.

[10] Ahmad 6/8

[11] Ahmad 2/440, Hakim 4/166 telah dishohihkan dan disepakati oleh adz-Dzahabi.

[12] Muslim 46/73

[13] Mawdhu’ atau munkar : al-Bazzar seperti dalam “Mujma’ al-Zawaaid” 8/166.

[14] Ibnu ‘Adi 5/1818.

[15] Shahih dalam al-Shahihah.

[16] Dha’if : Ibnu ‘Adi dalam al-Kamil 2/219.

[17] Muslim 2625/143.

[18] Thabrani dalam al-Awsath 3591.

[19] Muslim 2577.

[20] Ahmad 5/151

[21] Shahih Adabul Mufrod

[22] Shahih, di dalam kitab Al Irwa 891, Abu Daud 40 dalam Kitab Al Adab Bab Fi Haqqil Jiwar, Tirmidzi dalam Kitab Al Birru wash-Shilah Bab Maja’afi Haqqil-Jiwar.

[23] Taysir al-Karim al-Rahman fi tafsiri kalam al-Mannan, Hal 221.

[24] Shahih lighairihi dalam kitab As-Shahihah 282.

[25] Hasan, di dalam kitab Ash-Shaliihah 1443, Nasa’i dalam Kitab.Al Isti’adzah bab Al Isti’adzah min Jaris-Su’.

[26] Al-Baqarah : 44

[27] Az-Zumar : 18

Posted on April 6, 2011, in Mu'amalah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: