Category Archives: Mu’amalah

Pentingnya Menjaga Lisan

jaga-lisan

Alhamdulillah.. Segala puji bagi Allah Sang Pemilik ‘Arsy yang Agung yang tidak ada sesembahan yang hak kecuali Dia, kepadaNyalah kita beribadah juga kepadaNyalah kita minta pertolongan. Sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada pemimpin kita Nabi Muhammad hamba Allah dan RosulNya, juga kepada keluarga dan sahabat serta siapa saja yang mengikutinya sampai hari dimana seorang sibuk dengan dirinya sendiri serta  lari dari ayah dan ibunya, dari anak dan sahabatnya karena dahsyatnya hari itu (Hari Kiamat). Semoga Allah menjadikan kita pengikut nabiNya, mewafatkan kita dalam agamanya (Islam), membangkitkan kita dalam golongannya, serta memasukkan kita dalam syafa’atnya Amien Ya Mujiba al-saailin…

Pada kesempatan ini saya akan membahas tentang “Bahayanya Lisan”. Sangatlah bijak seseorang yang mengatakan “Mulutmu Harimaumu” atau “Keselamatan Manusia ada pada menjaga lisannya”. Ya benar!! keselamatan manusia ada dalam menjaga lisannya, seseorang yang tidak bisa menjaga lisannya tidak akan pernah berhenti untuk berbicara semaunya bahkan sampai pada derajat ghibah (membicarakan kejelekan orang lain) dan fitnah (membicarakan seseorang yang tidak sesuai dengan kenyataannya), dalam hal itu semua tidak terdapat kebaikan. Firman Allah :

*لاَّ خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَاهُمْ إِلاَّ مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاَحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتَغَاء مَرْضَاتِ اللّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْراً عَظِيماً

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, Maka kelak kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (An-Nisa’:114) Read the rest of this entry

Iklan

Memuliakan Tetangga

Miefta 01

Pendahuluan

Segala puji bagi Allah, kita memujiNya, meminta tolong dan memohon ampun kepadaNya serta berlindung kepadaNya dari segala kejelekan diri kita dan kekejian amal kita. Barang siapa yang diberi petunjukNya maka tidak ada yang dapat menyesatkannya dan barang siapa yang disesatkan maka tidak ada yang memberinya petunjuk. Dan saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang patut dan hak untuk disembah melainkan Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya.

Sholawat dan salam semoga tercurahkan atas junjungan kita Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabatnya serta siapa saja yang mengikutinya sampai hari kiamat. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang mengikutinya, mewafatkan kita dalam agamanya, membangkitkan kita bersama kelompoknya, dan memasukkan kita ke dalam syafa’atnya kelak. Amien Ya Robb al-‘Alamien.

Tiada yang patut saya ucapkan kecuali kalimat syukur kepada Allah yang telah memberikan saya hidayah untuk menulis sebuah tulisan yang semoga dengannya bisa bermanfaat bagi seluruh manusia, juga tak lupa saya haturkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada semua orang yang telah memotivasi saya untuk belajar menulis baik secara langsung maupun tidak langsung.

Pada tulisan perdana saya kali ini, saya tuliskan naskah yang singkat ini kepada siapa yang mengaku beragama islam (muslim) dengan sebuah judul yang mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita yaitu naskah singkat tentang “Memuliakan Tetangga”. Mengapa saya memilih judul tersebut?? Jawabannya adalah pertama, karena Islam sangat menganjurkan untuk memuliakan tetangga dan merupakan salah satu bagian dari keimanan seorang hamba. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi :

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الاَخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya” (HR. Bukhori Muslim)

Kedua, karena memuliakan tetangga merupakan wasiat yang terus menerus diwasiatkan Jibril kepada Rasulullah sampai-sampai Rasulullah mengiranya akan mewariskannya. Dalam sabdanya :

مَا زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِى بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

Jibril tidak henti-hentinya berwasiat kepadaku (agar berbuat baik) dengan tetangga, sehingga aku mengira bahwasanya dia mewariskannya(HR. Bukhori)

Ketiga, karena manusia di seluruh belahan bumi manapun tidak akan bisa hidup tanpa manusia yang lain dalah hal ini tetangga memiliki peran penting karena dialah yang paling dekat dengannya. Keempat, karena saya melihat hal ini sudah mulai terlupakan di mata masyarakat sehingga tak jarang kalau ada kasus tentang pertikaian dan perselisihan antar tetangga. Maka dari itu saya menulis naskah ini dengan tujuan ingin mempererat hubungan antar tetangga juga dengan tujuan supaya Allah menyempurnakan iman kita dengannya. Read the rest of this entry